
Keunikan Delman Betawi di Setu Babakan: Tradisi yang Menunggu Sentuhan Pemerintah
menjadi daya tarik bagi warga ibu kota. Selain menikmati pemandangan danau yang tenang, banyak pengunjung yang datang untuk memancing, berjalan santai, atau sekadar menikmati udara segar. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian, yaitu deretan delman Betawi yang berjejer di sisi danau. Delman ini bukan hanya sekadar sarana transportasi, melainkan juga salah satu simbol budaya Betawi yang mulai langka.
Di antara delman yang terparkir dengan ornamen warna-warni yang menghiasi keretanya, salah satu kusir, Topik (54), terlihat duduk santai di atas kereta kuda yang terparkir. Topik mengenakan baju biru tua dan dengan ramah menceritakan pengalamannya. “Kalau saya kan turun-menurun nih, Bang, dari engkong, bapak-bapak, baru dah nih turun keturunannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Delman yang ia kendarai bukanlah sembarang kereta kuda. Ini adalah delman khas Betawi, yang memiliki ciri khas pada roda kayunya. “Kalau delman Betawi itu yang rodanya kayu. Nah, kalau yang di luar rodanya ban mobil. Itu delman dari keluaran orang-orang daerah Bandung,” jelas Topik saat ditanya perbedaan delman Betawi dengan delman lainnya. Roda kayu ini memberikan kesan klasik dan sangat kental dengan nuansa tradisional Betawi yang unik.
Baca Juga : Klasemen F1 2019 Usai Bottas Menangi GP Australia
Namun, meskipun menjadi salah satu daya tarik wisata, kondisi ekonomi bagi para kusir delman, termasuk Topik, tidaklah lagi sebaik dulu. Pendapatan mereka mengalami penurunan drastis sejak pandemi melanda. “Kalau untuk sekarang-karang ini mah, parah deh, hampir 70 persen dikurangin,” keluh Topik. Sebelum pandemi, delman Betawi ini beroperasi hampir setiap hari, tetapi kini hanya berjalan pada akhir pekan atau hari libur sekolah.
Saat ramai, Topik mengaku bisa mengangkut hingga 30 penumpang dalam sehari, memberikan tur keliling Setu Babakan. Namun, ketika suasana sepi, ia hanya bisa menjalani tiga hingga lima perjalanan dalam sehari. Bahkan, di luar jam operasional, Topik lebih banyak menghabiskan waktu dengan merawat kudanya. “Alhamdulillah kegiatannya cuma nyari rumput sama nengok kuda, ngurus kuda, udah selesai,” ujarnya.
Meskipun demikian, Topik tetap berharap agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kelestarian budaya Betawi, khususnya dalam hal transportasi tradisional seperti delman. “Pengennya mah saya budaya Betawi ini dirapikan lagi, hiburannya. Kalau bisa ditambah banyak lagi, dan kesenian budaya Betawinya juga, tolonglah dirapikan kembali. Jangan cuma Sabtu-Minggu doang,” harap Topik.
Harapan Topik ini tidaklah berlebihan. Mengingat delman Betawi adalah salah satu ikon budaya yang sudah mulai langka, penting bagi kita untuk menjaga dan merawatnya agar tetap hidup. Pemerintah, dalam hal ini, dapat memperhatikan keberadaan delman sebagai salah satu bagian dari kekayaan budaya tradisional Indonesia yang perlu dilestarikan, bukan hanya sebagai objek wisata sesaat.
Tak hanya itu, delman juga bisa menjadi alternatif transportasi yang ramah lingkungan, memberikan nuansa nostalgia, dan menyambut kembali semangat pelestarian budaya lokal. Jika diberi perhatian lebih, delman Betawi di Setu Babakan dan tempat lainnya dapat menjadi magnet wisata yang lebih besar, sekaligus menyelamatkan salah satu bentuk tradisi yang mulai terlupakan.
Dengan demikian, semoga ada langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan merawat tradisi Betawi, agar tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga dapat dinikmati oleh generasi masa depan.





